JMI.Com – Rabu, 06/12/2017 11:19 WIB
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan mata uang rupiah tertahan pergerakannya seiring dengan mulai adanya optimisme akan pengesahan program reformasi pajak Amerika Serikat.
"Kepastian program reformasi pajak di Amerika Serikat itu mendukung dolar AS mengalami apresiasi," katanya.
Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif terbatas seiring dengan masih adanya imbas positif dari data inflasi Indonesia yang cukup terjaga sesuai target pemerintah, yakni sebesar 4 persen dengan deviasi 1 persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada November 2017 sebesar 0,2 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender Januari-November 2017 mencapai 2,87 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,3 persen.
Analis Monex Investindo Futures, Faisyal menambahkan bahwa pergerakan dolar AS dapat menguat dalam jangka pendek ini seiring kembali memanasnya resiko geopolitik di semanjung Korea setelah AS mengadakan latihan perang bersama dengan Korea Selatan.
"Risiko geopolitik itu dapat mendorong permintaan aset haven seperti dolar AS meningkat dan berimbas negataif pada mata uang di negara berkembang," katanya.
Antara/Red
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan mata uang rupiah tertahan pergerakannya seiring dengan mulai adanya optimisme akan pengesahan program reformasi pajak Amerika Serikat.
"Kepastian program reformasi pajak di Amerika Serikat itu mendukung dolar AS mengalami apresiasi," katanya.
Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif terbatas seiring dengan masih adanya imbas positif dari data inflasi Indonesia yang cukup terjaga sesuai target pemerintah, yakni sebesar 4 persen dengan deviasi 1 persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada November 2017 sebesar 0,2 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender Januari-November 2017 mencapai 2,87 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,3 persen.
Analis Monex Investindo Futures, Faisyal menambahkan bahwa pergerakan dolar AS dapat menguat dalam jangka pendek ini seiring kembali memanasnya resiko geopolitik di semanjung Korea setelah AS mengadakan latihan perang bersama dengan Korea Selatan.
"Risiko geopolitik itu dapat mendorong permintaan aset haven seperti dolar AS meningkat dan berimbas negataif pada mata uang di negara berkembang," katanya.
Antara/Red
0 komentar :
Posting Komentar